Buku ‘Rahasia Sukses Berkarier Internasional

March 14, 2010

Telah terbit sebuah buku yang berjudul ‘Rahasia Sukses  Berkarier Internasional (Rasberi)’ yang ditulis oleh Aretha Aprilia, Ibu Cemerlang Nestle-Cerelac 2006. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia dan telah tersedia di toko-toko buku terkemuka di berbagai kota di Indonesia.

Berikut ini excerpt dari buku ‘Rasberi’.

———————————————————-

Rahasia dan berbagai kiat berkarier internasional dikupas tuntas dalam buku “Rahasia Sukses Berkarier Internasional (Rasberi)” yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.

Metode konvensional seperti mencari informasi lowongan kerja di koran dan mengirimkan lamaran sebanyak-banyaknya ke berbagai institusi tanpa strategi terbukti kurang efektif di era kompetitif seperti sekarang ini. Tahukah Anda bahwa berdasarkan fakta dan penelitian:

* Lebih dari 70% pekerjaan diisi oleh kandidat internal (alias ‘orang dalam‘)
* Lebih dari 50% karyawan mendapatkan pekerjaan yang lowongannya tidak pernah diiklankan
* 70% – 80% pekerjaan diperoleh melalui jejaringan (networking), dan hanya 5% dari iklan lowongan dan pameran bursa kerja.

Buku ini memperkenalkan berbagai strategi non-konvensional yang juga membahas mengenai strategi melamar pekerjaan di institusi atau perusahaan internasional, kiat sukses menghadapi wawancara kerja, tips melakukan negosiasi gaji, dan masih banyak lagi.

Siapa yang wajib membaca buku ini?

* Para profesional dari tanah air, baik profesional mid-karir maupun fresh graduates.
* Para pelajar tingkat SMP, SMU, dan universitas yang ingin mempersiapkan pendidikan untuk kariernya di institusi internasional
* Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan dosen yang berniat untuk memperoleh pekerjaan atau proyek pada institusi internasional
* Para guru, dosen wali, konselor pendidikan, yang berniat untuk membimbing murid atau mahasiswa/i mereka untuk berkarier di institusi internasional
* Para karyawan yang ingin mencari alternatif kerja lain untuk meningkatkan karier dan pendapatan
* HRD, manajer, dan pegawai institusi dan perusahaan internasional
* Ibu rumah tangga yang ingin kembali memasuki dunia kerja saat ini yang kian kompetitif
* Para orang tua yang peduli dengan masa depan karier anak-anaknya di era kompetisi global

Buku yang berjudul ‘Rahasia Sukses Berkarier Internasional’ ini sengaja disingkat menjadi ‘RASBERI’. Alasannya, selain agar mudah diingat oleh pembaca, juga karena buah rasberi (raspberry) sendiri merupakan metafora jenis buah yang asing, rasanya bercampur antara manis dan asam. Hal tersebut tepat sekali merepresentasikan fakta bahwa memiliki karier internasional merupakan pengalaman yang asing, terkadang terasa manis, namun tak jarang juga terasa asam, sebab cukup banyak tantangan yang harus dihadapi selama seseorang menjalaninya.

Segera dapatkan buku ini di toko buku terdekat Anda mulai tanggal 16 Februari 2010.
Harga: Rp 40,000,-

Kunjungi http://www.arethaaprilia.com dan dapatkan berbagai informasi yang dapat diunduh secara GRATIS!


Kriteria dan Profil Ibu Cemerlang

March 8, 2008

Apa kriterianya supaya bisa terpilih sebagai Duta Nestle Bubur Susu? Ada elemen 6 B yang menjadi pertimbangan para dewan juri. Seperti yang kita tahu, pemilihan putri-putrian biasanya mengedepankan konsep 3B yaitu “Brain, Beauty, Behaviour”. Sebagai ibu, kita telah menjadi wanita seutuhnya dan untuk itu ada tambahan kriteria 3B lagi yaitu: “Baby knowledge, Breastfeeding, and Bright (cemerlang)”.Baby Knowledge

Ibu harus memiliki putra/putri yang sehat berusia 6 bulan ke atas, memiliki pengetahuan luas mengenai nutrisi dan tumbuh kembang bayi.

Breastfeeding

Ibu telah dan tengah memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan akan terus diberikan hingga 2 tahun (seperti yang didukung sepenuhnya oleh Nestle, UNICEF, dan pemerintah Indonesia).

Memiliki pengetahuan akan World Breastfeeding Week yang dirayakan tiap tahun, sebagai peringatan Innocenti Declaration, yakni pada tanggal 1 – 7 Agustus. Mendukung upaya strategi UNICEF yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung para ibu untuk menyusui secara eksklusif pada enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia bayi 2 tahun atau bahkan lebih. Menurut UNICEF ini merupakan makanan optimal bagi bayi dan anak dan sebagai Awal Terbaik bagi hidup mereka.

akhtar-and-mom_copy.jpg

Bright

Memiliki kemampuan komunikasi serta interpersonal yang baik, mengabdikan diri untuk mengkampanyekan nutrisi bayi dan ASI, dan bisa menjadi panutan bagi ibu-ibu lainnya sebagai ibu yang cemerlang.

Informasi mengenai pemilihan ini dapat Ibu peroleh melalui website resmi Nestle: www.ibucemerlang.com. Bila Ibu mempunyai pertanyaan atau komentar mengenai Pemilihan ini, jangan ragu untuk share dengan kami di sini, melalui “post comment” di weblog Ibu Cemerlang ini. Pertanyaan atau komentar Ibu akan ditanggapi oleh ibu Aretha Aprilia – Duta Nestle Bubur Susu 2006, serta para pemenang dan finalis Ibu Cemerlang 2006 yang lainnya.


Ibu Cemerlang 2007

March 16, 2007

Pemilihan Ibu Cemerlang 2007 telah sukses digelar. Terima kasih atas perhatian dari semua pihak dan selamat untuk ibu Listu dari Jakarta, yang terpilih sebagai Ibu Cemerlang 2007. Untuk info lebih lanjut, silakan kirimkan e-mail ke: sahabatnestle@id.nestle.com.


Menciptakan Suasana Makan Menyenangkan dengan Buah Hati

December 25, 2006

Ketika masa karantina Pemilihan Ibu Cemerlang Nestle Bubur Susu 2006, kami kesepuluh ibu muda yang menjadi finalis saling berbagi tips mengenai bagaimana menciptakan suasana makan yang menyenangkan untuk buah hati kami. Ternyata menarik juga mengetahui bagaimana sesama ibu baru yang menghadapi masalah yang sama dalam memulai proses perkenalan terhadap pemberian makanan pendamping (MP-ASI). Seperti ibu Nova di Jakarta misalnya, beliau berupaya untuk menjadikan acara makan bagi anaknya se-asyik mungkin dengan cara memasang CD musik anak-anak dan ikut bernyanyi. Banyak nyanyian anak yang kemudian dihapalnya, seperti Twinkle-Twinkle Little Star, Polly Put the Kettle On, dan sebagainya.

Selain itu menurut bu Nova, wadah makan juga berpengaruh, karena kalau makanannya ditaruh di mangkok biasa, sang anak Zefanya tidak seantusias kalau makanannya ditaruh di mangkok yang ada gambar beruang, jerapah, bebek, atau gambar lainnya yang menarik. Selain itu bu Nova juga cukup kreatif dengan memainkan boneka tangan berbentuk bebek yang bisa bersuara. Tapi satu hal yang menjadi prinsipnya, yaitu tidak membiasakan anaknya makan sambil diajak jalan-jalan. Jadi supaya si anak disiplin, begitu ya bu Nova? Hmm… betul-betul Ibu yang Cemerlang!

Lain lagi dengan ibu Ida di Palangkaraya. Untuk buah hatinya, dia berprinsip hanya memberikan makan anak jika pada jam makan yang sudah ditentukan dan menjadi rutinitas harian. Ketika anak benar-benar lapar (tapi jangan sampai kelaparan), dia juga tidak akan ragu untuk membuka mulutnya ketika kita menyuapkan makanan. Selain itu, menurut bu Ida, kita harus rajin bereksplorasi. Dalam arti, memberikan variasi menu makanan supaya si anak tidak merasa bosan dengan rasa yang itu-itu saja. Perlu juga libatkan anak dalam aktivitas makan, misalnya memperbolehkan dia memegang peranti makanan, sehingga anak juga belajar untuk nantinya bisa mandiri dan makan sendiri.

Bagaimana dengan Ibu yang sedang membaca tulisan ini? Apakah ada saran mengenai cara menciptakan suasana makan yang menyenangkan dengan si kecil? Silakan kirim komentar Anda.

baby_eat_melon1.jpg

<gambar adalah hak cipta dari sini>


Kandungan Vaksin Pemicu Autisme

December 25, 2006

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah e-mail dari salah seorang calon ibu bernama Poppy Hafianti di Jambi, yang saat ini tengah hamil 4 bulan. Ibu Poppy mem-forward sebuah artikel berisi informasi yang menurut saya sangat mengkhawatirkan, karena berdasarkan artikel tersebut, terdapat vaksin Hepatitis B yang mengandung zat pengawet Thimerosal yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme.

Nah, kebetulan kemarin saya berkunjung ke dokter anak saya untuk imunisasi. Saya kemudian tanya-tanya ke ibu dokter sehubungan dengan Thimerosal yang digunakan sebagai pengawet vaksin Hepatitis B ini. Beliau menjelaskan kalau teori ini perlu dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut.

Tapi meski demikian saya tanya, apakah di rumah sakit ini vaksin HiB-nya bebas Thimerosal? Alhamdulillah beliau menjawab “ya”. Jadi saya menyarankan untuk ibu-ibu, lepas dari masalah apakah teori ini benar atau tidak, tidak ada salahnya kita menanyakan kepada dokter anak kita apakah vaksin HiB yang diberikan (atau akan diberikan) pada anak kita mengandung unsur kimia ini. Kalau masih ragu, cek juga botol/kemasan vaksin tsb untuk memastikan kandungannya. Better be aware than regret later…

Berikut simak artikel lengkapnya di bawah ini.

“Setelah kesibukan yang menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku “Children with Starving Brains” karangan Jaquelyn McCandless, MD. Ternyata buku yang saya beli itu benar-benar membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder.

Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis. Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 – Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB. Menurut buku tersebut (halaman 54 – 55) ternyata dua macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an. Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak akhir tahun 2001.

Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumahsakit besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah “diracuni” oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi. Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah.

Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus terapi ABA , Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya. Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal.”


Sindroma “Super-Parents”

December 25, 2006

Peribahasa Cina mengatakan, “kehidupan anak bagaikan selembar kertas dimana semua orang meninggalkan tanda”. Bagaimana pendapat Ibu mengenai ini? Kalau saya merasa bahwa memang anak bagaikan kertas putih dimana orang tuanya (atau lingkungannya) bisa mencorat-coret atau memberikan warna, yang nantinya membentuk karakter anak tersebut. Namun saya juga percaya kalau karakter anak sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Sudah banyak kisah tentang orang tua yang ingin menjadi “super-parents”, sehingga tanpa disadari mengeksploitasi anaknya dengan berusaha mencetak mereka sebagai “super-kids”. Tidak hanya dengan bela-belain memasukkan anaknya ke sekolah internasional atau bilingual tanpa memperhitungkan kocek demi gengsi sang orang tua. Memang kalau niatnya menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional itu untuk menstimulasi kemampuan akademis dan berbahasa asing adalah hal yang mulia, tapi tidak jarang kita temui orang tua yang lantas (kadang tanpa disadari) memamerkan kelebihan sang anak di luar proporsi yang wajar.

Kemampuan bahasa asing di usia dini menjadi suatu trademark dan gengsi bagi orang tua. Inikah produk Amerikanisasi, Mc Donaldisasi, atau Manhattanisasi yang sudah merambah bangsa kita? Mengapa tidak kita perkenalkan anak kita dengan tari Bali, tari Gambyong, alih-alih tari ballet yang sangat westernized? Mengapa tidak kita ajari anak kita untuk berbahasa Jawa karma inggil yang sangat santun, alih-alih memaksakan anak kita untuk mau belajar bahasa Perancis?

“Sekolah yang baik adalah sebuah komunitas dimana anak-anak belajar sebagai anak-anak sewajarnya, bukan sebagai orang dewasa di kemudian hari”. Sejujurnya, saya juga terpikir untuk memasukkan Akhtar ke pre school saat dia nanti berusia 1,5 tahun. Tapi saya akan mencoba menyeleksi pre school yang ada, karena saya tidak menyekolahkan dia dengan ambisi untuknya sebagai the next Kofi Annan atau the next SBY, tapi sebagai anak yang ingin memuaskan rasa haus interaksi sosial dengan sesama anak seumurnya, dan memuaskan keingintahuannya terhadap lingkungannya.


Rentang Usia Anak yang Ideal (?)

December 25, 2006

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 20 Desember 2006 kemarin, Akhtar berulang tahun yang pertama. Posisi kami sekarang yang bermukim di Bangkok tidak memungkinkan untuk merayakan bersama keluarga, saudara, terutama eyang-eyangnya yang sangat kangen dengan cucundanya.

Bicara mengenai eyang, saya jadi ingat ada yang mengatakan, “have children while your parents are still young enough to take care of them”. Memang orang tua saya dan mas Nuki, suami saya, dengan senang hati menjaga dan merawat si Akhtar. Tapi karena usia yang sudah tidak begitu muda, kemungkinan besar beliau-beliau lebih banyak bertindak sebagai supervisor terhadap babysitter atau nanny yang lebih banyak mengurus detail-detail pengasuhannya. Tapi kalau bicara masalah timing, berapa sih jarak usia yang ideal antara anak pertama dan kedua?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.