Sindroma “Super-Parents”

Peribahasa Cina mengatakan, “kehidupan anak bagaikan selembar kertas dimana semua orang meninggalkan tanda”. Bagaimana pendapat Ibu mengenai ini? Kalau saya merasa bahwa memang anak bagaikan kertas putih dimana orang tuanya (atau lingkungannya) bisa mencorat-coret atau memberikan warna, yang nantinya membentuk karakter anak tersebut. Namun saya juga percaya kalau karakter anak sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Sudah banyak kisah tentang orang tua yang ingin menjadi “super-parents”, sehingga tanpa disadari mengeksploitasi anaknya dengan berusaha mencetak mereka sebagai “super-kids”. Tidak hanya dengan bela-belain memasukkan anaknya ke sekolah internasional atau bilingual tanpa memperhitungkan kocek demi gengsi sang orang tua. Memang kalau niatnya menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional itu untuk menstimulasi kemampuan akademis dan berbahasa asing adalah hal yang mulia, tapi tidak jarang kita temui orang tua yang lantas (kadang tanpa disadari) memamerkan kelebihan sang anak di luar proporsi yang wajar.

Kemampuan bahasa asing di usia dini menjadi suatu trademark dan gengsi bagi orang tua. Inikah produk Amerikanisasi, Mc Donaldisasi, atau Manhattanisasi yang sudah merambah bangsa kita? Mengapa tidak kita perkenalkan anak kita dengan tari Bali, tari Gambyong, alih-alih tari ballet yang sangat westernized? Mengapa tidak kita ajari anak kita untuk berbahasa Jawa karma inggil yang sangat santun, alih-alih memaksakan anak kita untuk mau belajar bahasa Perancis?

“Sekolah yang baik adalah sebuah komunitas dimana anak-anak belajar sebagai anak-anak sewajarnya, bukan sebagai orang dewasa di kemudian hari”. Sejujurnya, saya juga terpikir untuk memasukkan Akhtar ke pre school saat dia nanti berusia 1,5 tahun. Tapi saya akan mencoba menyeleksi pre school yang ada, karena saya tidak menyekolahkan dia dengan ambisi untuknya sebagai the next Kofi Annan atau the next SBY, tapi sebagai anak yang ingin memuaskan rasa haus interaksi sosial dengan sesama anak seumurnya, dan memuaskan keingintahuannya terhadap lingkungannya.

One Response to Sindroma “Super-Parents”

  1. Tri Haryono says:

    Mendidik anak ditempat yg terbaik memang keinginan semua orangtua juga menjadikan mereka orng yang berhasil diMasa Depannya kelak pun menjadi impian setiap orang,tetapi keBerhasilan Mereka kelak nantinya tidak hanya berhasil untuk kehidupan mereka sendiri,syukur-syukur keberhasilan mereka dapat dirasakan oleh orang lain,Jadi menurut saya selaku orang tua yang diberi kepercayaan oleh Tuhan mengasuh Anak Kembar,keberhasilan mereka tidak hanya untuk didunia tapi juga untuk Akhirat juga,oleh karena itu dunia anak bermain maka belajaran yang mereka akan terima saat ini diusahakan dengan cara yang menyenangkan tanpa harus merengut dunia mera yaitu Dunia Bermain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: