Menciptakan Suasana Makan Menyenangkan dengan Buah Hati

December 25, 2006

Ketika masa karantina Pemilihan Ibu Cemerlang Nestle Bubur Susu 2006, kami kesepuluh ibu muda yang menjadi finalis saling berbagi tips mengenai bagaimana menciptakan suasana makan yang menyenangkan untuk buah hati kami. Ternyata menarik juga mengetahui bagaimana sesama ibu baru yang menghadapi masalah yang sama dalam memulai proses perkenalan terhadap pemberian makanan pendamping (MP-ASI). Seperti ibu Nova di Jakarta misalnya, beliau berupaya untuk menjadikan acara makan bagi anaknya se-asyik mungkin dengan cara memasang CD musik anak-anak dan ikut bernyanyi. Banyak nyanyian anak yang kemudian dihapalnya, seperti Twinkle-Twinkle Little Star, Polly Put the Kettle On, dan sebagainya.

Selain itu menurut bu Nova, wadah makan juga berpengaruh, karena kalau makanannya ditaruh di mangkok biasa, sang anak Zefanya tidak seantusias kalau makanannya ditaruh di mangkok yang ada gambar beruang, jerapah, bebek, atau gambar lainnya yang menarik. Selain itu bu Nova juga cukup kreatif dengan memainkan boneka tangan berbentuk bebek yang bisa bersuara. Tapi satu hal yang menjadi prinsipnya, yaitu tidak membiasakan anaknya makan sambil diajak jalan-jalan. Jadi supaya si anak disiplin, begitu ya bu Nova? Hmm… betul-betul Ibu yang Cemerlang!

Lain lagi dengan ibu Ida di Palangkaraya. Untuk buah hatinya, dia berprinsip hanya memberikan makan anak jika pada jam makan yang sudah ditentukan dan menjadi rutinitas harian. Ketika anak benar-benar lapar (tapi jangan sampai kelaparan), dia juga tidak akan ragu untuk membuka mulutnya ketika kita menyuapkan makanan. Selain itu, menurut bu Ida, kita harus rajin bereksplorasi. Dalam arti, memberikan variasi menu makanan supaya si anak tidak merasa bosan dengan rasa yang itu-itu saja. Perlu juga libatkan anak dalam aktivitas makan, misalnya memperbolehkan dia memegang peranti makanan, sehingga anak juga belajar untuk nantinya bisa mandiri dan makan sendiri.

Bagaimana dengan Ibu yang sedang membaca tulisan ini? Apakah ada saran mengenai cara menciptakan suasana makan yang menyenangkan dengan si kecil? Silakan kirim komentar Anda.

baby_eat_melon1.jpg

<gambar adalah hak cipta dari sini>


Sindroma “Super-Parents”

December 25, 2006

Peribahasa Cina mengatakan, “kehidupan anak bagaikan selembar kertas dimana semua orang meninggalkan tanda”. Bagaimana pendapat Ibu mengenai ini? Kalau saya merasa bahwa memang anak bagaikan kertas putih dimana orang tuanya (atau lingkungannya) bisa mencorat-coret atau memberikan warna, yang nantinya membentuk karakter anak tersebut. Namun saya juga percaya kalau karakter anak sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Sudah banyak kisah tentang orang tua yang ingin menjadi “super-parents”, sehingga tanpa disadari mengeksploitasi anaknya dengan berusaha mencetak mereka sebagai “super-kids”. Tidak hanya dengan bela-belain memasukkan anaknya ke sekolah internasional atau bilingual tanpa memperhitungkan kocek demi gengsi sang orang tua. Memang kalau niatnya menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional itu untuk menstimulasi kemampuan akademis dan berbahasa asing adalah hal yang mulia, tapi tidak jarang kita temui orang tua yang lantas (kadang tanpa disadari) memamerkan kelebihan sang anak di luar proporsi yang wajar.

Kemampuan bahasa asing di usia dini menjadi suatu trademark dan gengsi bagi orang tua. Inikah produk Amerikanisasi, Mc Donaldisasi, atau Manhattanisasi yang sudah merambah bangsa kita? Mengapa tidak kita perkenalkan anak kita dengan tari Bali, tari Gambyong, alih-alih tari ballet yang sangat westernized? Mengapa tidak kita ajari anak kita untuk berbahasa Jawa karma inggil yang sangat santun, alih-alih memaksakan anak kita untuk mau belajar bahasa Perancis?

“Sekolah yang baik adalah sebuah komunitas dimana anak-anak belajar sebagai anak-anak sewajarnya, bukan sebagai orang dewasa di kemudian hari”. Sejujurnya, saya juga terpikir untuk memasukkan Akhtar ke pre school saat dia nanti berusia 1,5 tahun. Tapi saya akan mencoba menyeleksi pre school yang ada, karena saya tidak menyekolahkan dia dengan ambisi untuknya sebagai the next Kofi Annan atau the next SBY, tapi sebagai anak yang ingin memuaskan rasa haus interaksi sosial dengan sesama anak seumurnya, dan memuaskan keingintahuannya terhadap lingkungannya.


Rentang Usia Anak yang Ideal (?)

December 25, 2006

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 20 Desember 2006 kemarin, Akhtar berulang tahun yang pertama. Posisi kami sekarang yang bermukim di Bangkok tidak memungkinkan untuk merayakan bersama keluarga, saudara, terutama eyang-eyangnya yang sangat kangen dengan cucundanya.

Bicara mengenai eyang, saya jadi ingat ada yang mengatakan, “have children while your parents are still young enough to take care of them”. Memang orang tua saya dan mas Nuki, suami saya, dengan senang hati menjaga dan merawat si Akhtar. Tapi karena usia yang sudah tidak begitu muda, kemungkinan besar beliau-beliau lebih banyak bertindak sebagai supervisor terhadap babysitter atau nanny yang lebih banyak mengurus detail-detail pengasuhannya. Tapi kalau bicara masalah timing, berapa sih jarak usia yang ideal antara anak pertama dan kedua?


Sukses Menyusui dan Berkarier

December 25, 2006

Sebagai ibu berkarir yang aktif dan sibuk, tentunya banyak kendala yang dihadapi dalam memberikan ASI bagi anaknya. Bagi saya pribadi, memang kebetulan dan saya putuskan untuk berhenti bekerja kantoran selama setahun, yakni sejak saya hamil 8 bulan hingga anak berusia 11 bulan. Alhamdulillah saya berhasil memberikan ASI eksklusif dan hingga saat ini Akhtar berusia lebih dari 1 tahun, saya masih memberikan dia ASI sebagai tambahan dari makanan intinya.

Sekarang saya sudah kembali bekerja sebagai Programme Specialist di United Nations Environment Programme (PBB Program Lingkungan Hidup) yang bermarkas di Bangkok, Thailand. Pekerjaan ini sangat demanding dan menuntut saya untuk harus berada di kantor dari pukul 8.30 hingga 5 sore. Saya jadi makin jarang bertemu dengan anak saya, karena kondisi jalan di Bangkok juga mirip seperti di Jakarta: m-a-c-e-t. Tapi syukurlah, thanks to the technology, sekarang saya bisa tetap memberikan ASI untuk Akhtar tanpa mengorbankan keinginan saya untuk tetap berkarir.

Dulu saya sudah mencoba berbagai merk dan jenis pompa ASI yang tersedia di pasaran. Pertamanya saya coba yang manual, tapi kok kalau pas memompa lama-lama rasanya tangan jadi terasa pegal. Kemudian saya membaca di sebuah tabloid pasangan muda yang merekomendasikan sebuah merk pompa ASI elektrik yang kemudian saya beli dan rasakan manfaatnya. Tanpa bermaksud untuk mengiklankan produk ini lho ibu-ibu, saya ingin sharing saja, kalau ternyata pompa ASI elektrik merk Medela memenuhi kebutuhan saya. Keuntungan pompa elektrik ini adalah bisa memompa ASI dalam jumlah banyak pada waktu yang relatif singkat. Untuk kasus saya, dengan pompa ini saya bisa menyimpan sebanyak 120 ml ASI dalam waktu sekitar 5 menit. Memang harganya lebih mahal daripada merk lainnya (sekitar Rp 600 – 800 ribu), tapi it’s worth every penny. Saya juga menganggap pengeluaran ini sebagai investasi jangka panjang, karena insya Allah benefits-nya akan diperoleh di masa mendatang sebagai bekal masa depan anak saya.

breast-pump1.jpg

Jadi, memang sudah bukan jamannya lagi ibu-ibu cemerlang masa kini untuk menyalahkan karier sebagai alasan tidak bisa diberikannya ASI untuk anaknya. Kita diberikan opsi; menjadi ibu sukses menyusui atau sukses berkarir. Kenapa tidak dipilih dua-duanya – sehingga bukan either-or, tetapi both-and.