Sukses Menyusui dan Berkarier

December 25, 2006

Sebagai ibu berkarir yang aktif dan sibuk, tentunya banyak kendala yang dihadapi dalam memberikan ASI bagi anaknya. Bagi saya pribadi, memang kebetulan dan saya putuskan untuk berhenti bekerja kantoran selama setahun, yakni sejak saya hamil 8 bulan hingga anak berusia 11 bulan. Alhamdulillah saya berhasil memberikan ASI eksklusif dan hingga saat ini Akhtar berusia lebih dari 1 tahun, saya masih memberikan dia ASI sebagai tambahan dari makanan intinya.

Sekarang saya sudah kembali bekerja sebagai Programme Specialist di United Nations Environment Programme (PBB Program Lingkungan Hidup) yang bermarkas di Bangkok, Thailand. Pekerjaan ini sangat demanding dan menuntut saya untuk harus berada di kantor dari pukul 8.30 hingga 5 sore. Saya jadi makin jarang bertemu dengan anak saya, karena kondisi jalan di Bangkok juga mirip seperti di Jakarta: m-a-c-e-t. Tapi syukurlah, thanks to the technology, sekarang saya bisa tetap memberikan ASI untuk Akhtar tanpa mengorbankan keinginan saya untuk tetap berkarir.

Dulu saya sudah mencoba berbagai merk dan jenis pompa ASI yang tersedia di pasaran. Pertamanya saya coba yang manual, tapi kok kalau pas memompa lama-lama rasanya tangan jadi terasa pegal. Kemudian saya membaca di sebuah tabloid pasangan muda yang merekomendasikan sebuah merk pompa ASI elektrik yang kemudian saya beli dan rasakan manfaatnya. Tanpa bermaksud untuk mengiklankan produk ini lho ibu-ibu, saya ingin sharing saja, kalau ternyata pompa ASI elektrik merk Medela memenuhi kebutuhan saya. Keuntungan pompa elektrik ini adalah bisa memompa ASI dalam jumlah banyak pada waktu yang relatif singkat. Untuk kasus saya, dengan pompa ini saya bisa menyimpan sebanyak 120 ml ASI dalam waktu sekitar 5 menit. Memang harganya lebih mahal daripada merk lainnya (sekitar Rp 600 – 800 ribu), tapi it’s worth every penny. Saya juga menganggap pengeluaran ini sebagai investasi jangka panjang, karena insya Allah benefits-nya akan diperoleh di masa mendatang sebagai bekal masa depan anak saya.

breast-pump1.jpg

Jadi, memang sudah bukan jamannya lagi ibu-ibu cemerlang masa kini untuk menyalahkan karier sebagai alasan tidak bisa diberikannya ASI untuk anaknya. Kita diberikan opsi; menjadi ibu sukses menyusui atau sukses berkarir. Kenapa tidak dipilih dua-duanya – sehingga bukan either-or, tetapi both-and.

Advertisements

Pemilihan Ibu Cemerlang 2006

December 25, 2006

Pemilihan Ibu Cemerlang yang berlangsung 21 September 2006 lalu menyisakan kesan dan kenangan tersendiri bagi para ibu yang terpilih sebagai finalis dari total sebanyak 475 pelamar dari seluruh Indonesia yang mengirimkan formulir, foto dan esai singkat mengenai menciptakan suasana makan yang menyenangkan untuk si kecil.

Pemilihan ini adalah yang pertama kalinya diadakan di Indonesia, yang tujuan utamanya adalah memberikan penghargaan kepada para ibu atas jasa-jasanya merawat anak-anak calon generasi mendatang dengan sepenuh hati dan ketulusan.

Seperti yang diungkapkan dalam presentasi Prof. Wardiman Djojonegoro (Ketua Yayasan Putri Indonesia dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) saat Pembekalan Finalis, salah satu persoalan yang dihadapi ibu dalam melaksanakan “tugasnya”, salah satunya adalah karena masyarakat menganggap peranan ibu sudah semestinya dan tidak memberikan perhatian apalagi menawarkan bantuan. Kondisi inilah yang kemudian mendorong Nestle memberikan suatu bentuk “penghargaan” bagi kita, para ibu, yang tengah dan telah melaksanakan tugas mulia kita dalam membesarkan dan mendidik anak-anak kita, yang nantinya akan menjadi pemimpin dan tulang punggung bangsa kita tercinta ini.

Begitu banyak fakta mengerikan yang terjadi dan dialami oleh cukup banyak anak di Indonesia. Bayangkan, 8 dari 24 juta anak Indonesia berusia di bawah 5 tahun dikategorikan menderita malnutrisi! 75% bayi Indonesia diberi makanan lain selain ASI beberapa jam atau pada hari pertama kelahirannya, bahkan lebih dari 200 ribu bayi di Indonesia tidak diberi ASI sama sekali. Hal ini sungguh memprihatinkan, dan fakta yang mengatakan bahwa 30% anak malnutrisi tersebut malahan berasal dari keluarga menengah yang relatif mampu.

Tentunya perlu tindakan supaya kita bisa meningkatkan kepedulian para ibu Indonesia akan pentingnya ASI yang telah terbukti sangat bermanfaat bagi pertumbuhan otak dan ketahanan tubuh / imunitas bayi. Ada yang mengatakan, ASI mungkin bukan pilihan yang terbaik bagi semua ibu, tapi ASI jelas pilihan yang TERBAIK bagi SEMUA bayi. Kalimat tersebut bukan permainan kata semata, namun memiliki makna yang mendalam karena memang tidak ada satu pun minuman atau makanan substitusi bagi bayi yang mempunyai khasiat yang sama dengan ASI.

Yang menjadi pertanyaan adalah, biasanya kira-kira apa yang menjadi sebab ibu-ibu tidak mau menyusui anaknya? Tentu ada berbagai alasan, semisal:
1. Tidak / kurang mengerti pentingnya dan manfaat ASI bagi bayi dan dirinya
2. Tidak tahu teknik menyusui yang benar atau karena sebab tertentu sang ibu tidak bisa memproduksi ASI yang mencukupi
3. Rasa malu yang menghinggap saat harus menyusui di depan umum
4. Tergiur oleh kemudahan yang ditawarkan oleh susu formula, karena gencarnya iklan-iklan susu formula perusahaan besar
5. Khawatir bentuk payudaranya menjadi rusak karena menyusui
6. Berlindung di balik alasan “bekerja” atau “berkarir”.

Sebetulnya, apa sih keuntungan para ibu yang memberikan ASI? Kalau orang bule bilang, “what’s in it for us?” Wah tentunya banyak sekali manfaatnya, tidak hanya buat bayi tapi juga buat ibu. Di antaranya:
1. Gratis! Lumayan kan, bisa menghemat pengeluaran keluarga karena tidak harus membeli susu formula yang harganya selangit. Dana buat beli susu formula bisa dialokasikan untuk dinner romantis di akhir minggu bareng suami atau nonton film di bioskop.
2. Tersedia kapan saja dan dapat diberikan di mana saja, serta terjamin higienis sehingga tidak perlu repot mensterilkan botol dengan cara merebus atau membeli alat sterilisasi botol susu yang mahal harganya.
3. Mengurangi kekhawatiran ibu karena anak relatif menjadi lebih imun terhadap penyakit sehingga jarang sakit serta menekan pengeluaran untuk berobat ke dokter.
4. Berdasarkan sebuah penelitian, ibu-ibu yang memberikan ASI mempunyai kemungkinan yang lebih rendah terkena resiko kanker payudara.

Masih berdasarkan penelitian, anak yang diberi ASI memiliki IQ lebih tinggi daripada yang diberi susu formula. Meskipun poin ini masih menjadi perdebatan yang belum berujung karena adanya kelompok medis dan peneliti yang mengatakan bahwa IQ anak lebih banyak tergantung pada faktor genetik dan lingkungan yang menjadi stimulator.
Walau demikian, asupan ASI pada awal kehidupan di tahun – tahun pertama bayi tetaplah penting, mengingat: 1) pertumbuhan otak bayi paling signifikan dibandingkan tahun-tahun selanjutnya, dan 2) ukuran otak berkembang 3x lipat dan mengkonsumsi 60% energi dari nutrisi keseluruhan yang diserap bayi.

Jadi tunggu apa lagi ibu-ibu? Berikan ASI kepada bayi kita sejak dia lahir hingga 6 bulan secara eksklusif, dalam arti tanpa tambahan makanan / minuman lain sebagai suplemen maupun substitusi. Selanjutnya terus berikan ASI di samping makanan pendamping ASI (MP-ASI) hingga anak berusia 2 tahun.

Untuk MP-ASI kita sebagai ibu yang cerdas juga harus mampu memilih dan memilah mana yang terbaik untuk anak kita, disesuaikan dengan usianya. Sebab anak mempunyai kemampuan untuk menyerap makanan dan struktur yang berbeda pada tiap fase pertumbuhannya. Sejak Akhtar – anak saya, berusia 6 bulan saya perkenalkan dia dengan Nestle bubur susu, karena komposisi gizi dan nutrisi yang terkandung di dalamnya sangat kaya dan struktur buburnya mudah dicerna oleh perut bayi yang sensitif.

Sebagai Ibu Cemerlang, kita harus tahu rumusnya: A + B = C.
Artinya, ASI + Bubur susu Nestle = Cemerlang ! Sesuai dengan tagline Nestle: “Bekal Cerdas, Esok Cemerlang”. Dengan bekal nutrisi yang cukup bagi anak kita, niscaya masa depannya akan lebih terjamin karena mereka lebih kuat, tahan terhadap penyakit, dan cerdas!

malam-penobatan.JPG